Definisi Gandrung
 |
| penari gandrung |
Tari Gandrung merupakan kesenian asli masyarakat Osing Banyuwangi. Kata Gandrung yang berarti tergila-gila atau terpesona. Maksudnya adalah terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri yaitu Dewi padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Ungkapan rasa syukur masyarakat setiap habis panen mewujudkan suatu bentuk kegembiraan sebagaimana penampilan Gandrung. Yang menarik dalam Gandrung, selain ragam gerak adalah tata busana tarinya, karena tata busana dalam Gandrung memiliki ciri dan makna yang bisa dicermati dari bentuk ragam hias dan makna warna dasar busana.
Berbicara gandrung dengan banyuwangi bagaikan dua sisi mata uang logam yang saling berhubungan satu dengan yang lain dan tidak dapat dipisahkan. Bagaikan nyawa dan raga yang juga tidak bisa dipisahkan, dan jika dipisahkan akan menyebabkan Kematian. Mengapa demikian? Karena awal-awal munculnya GANDRUNG ini bersamaan dengan sibuknya masyarakat banyuwangi ketika membuka hutan (BABAT ALAS) Tirtogondo pada tahun 1773 yang nantinya akan menjadi Pusatnya Kabupaten Banyuwangi . Siapakah yang membuka Hutan tersebut ? Belanda atau VOC mengumpulkan rakyat banyuwangi yang sudah kocar kacir ditengah hutan akibat kalah perang bayu pada tanggal 11 Oktober 1772 . Mereka awalnya dikumpulkan karena mereka akan dijanjikan uang namun akhirnya itu semua adalah kebohongan belaka.
Akhirnya setelah mengetahui akal busuk VOC itu sebagaian dari mereka ada yang kembali lagi ketengah hutan . Sedangkan sisanya yang masih mau bertahan memilih menetap di Pusat kota. Seiring berjalannya waktu rakyat banyuwangi yang sudah kocar kacir itu berkeinginan untuk mempersatukan mereka. Maka untuk mewujudkan itu semua maka para pria memiliki akal yaitu dengan cara mengadakan kesenian.
Alat music yang digunakan untuk mengiringi lagu dan tarian gandrung pada saat itu adalah Terbang (Rebana) dan Kendhang. Sedangkan penarinya adalah seorang pria yang berumur sekitar 7 – 15 tahunan. Kesenian gandrung ini berkeliling keluar hutan untuk menuju perkampungan warga dan menghampiri mereka sambil membawa kenthongan yang berguna untuk wadah beras sebagai upah dari hasil mempertunjukkan kesenian gandrung ini.